Burung yang Malas

Sebelum matahari terbit, ayam sudah bangun terlebih duhulu. Ayam berkokok dengan suara nyaring seakan-akan hendak membangunkan burung dan manusia.

“Hei burung… bangun dan kemarilah,hari mulai pagi dan mataharipun segera terbit.” Teriak ayam dengan suara nyaring dan keras, membangunkan burung dari tidurnya.

“Nanti saja ayam… aku masih lelah dan aku ingin melanjutkan tidurku.” Jawab burung dengan mata terlelap pada ayam.

“Cepatlah bangun burung! Aku hendak mencari makan. Bukankah engkau juga harus mencari makan?”

“Aku akan mencari makan nanti, pergilah lebih dulu dan tak usah menungguku.” Jawab burung dengan nada tinggi.

“Nanti kau tidak mendapatkannya” bujuk ayam.

“Aku pasti mendapatkan makananku. Jangan katakan aku burung apabila aku tidak bisa mencari makananku sendiri. Sekarang pergilah tinggalkan aku. Aku ingin melanjutkan tidurku.”

“Baiklah jika engkau mengatakan begitu, aku akan pergi lebih dulu.”

Ayam pun segera pergi meninggalkan burung dan mulai mencari makan.

Saat ayam sedang mencari makan, terlihat banyak sekumpulan burung juga sedang mencari makan.

Ketika mereka sedang sibuk mencari makan, burung sangat menikmati tidurnya di sarang kecil miliknya di sudut ranting.

Burung tidak lagi memikirkan persediaan makanannya. Ia hanya bermalas-malasan di sarang miliknya.

Hingga pada siang hari, cahaya matahari pun tidak menyinari karena terhalang oleh awan gelap yang hitam pertanda akan turun hujan.

Sekumpulan burung tadi pun segera mencari makanannya lebih banyak dan menyimpannya sebelum hujan turun untuk persediaan makanannya.

Karena awan semakin lama semakin gelap, ayam pun segera menghampiri burung yang masih terlelap.

“Burung bangunlah !! hari akan hujan. Cepatlah kau bangun dan pergi mencari makan. Jangan terus bermalas-malasan di dalam sarangmu itu!” teriak ayam dari bawah pohon.

“Diamlah ayam !! Lagi-lagi kau mengganggu tidurku. Kau jangan membohongi aku, ini  masih pagi, matahari pun belum terbit. Aku akan bangun jika matahari sudah terbit.” Jawab burung dengan mata yang masih terpejam.

“Aku tidak berbohong burung.. Lihatlah awan sudah gelap. Buka matamu sekarang dan lihatlah ke langit.”
Burung pun kembali tidur tanpa menghiraukan perkataan ayam.

Ayam pun kesal dengan sikap burung yang tidak mendengarkannya dan ia pun segera pergi meninggalkan burung.

Sekumpulan burung yang mencari makan tadi pun pulang karena hujan mulai turun perlahan.

Hujan pun mulai membasahi rumah, kandang, dan pepohonan.

Ketika hujan mulai membasahi pepohonan, burung pun terbangun.

“Hahh hujan !!” teriak burung.
Burung pun sangat terkejut ketika ia melihat hujan sudah memasahi pohon dan sarang miliknya.

“Bagaimana ini? Hujan turun dan aku tidak bisa mencari makan. Sekarang apa yang harus ku perbuat? aku sangat kelaparan... Benar yang dikatakan ayam kalau hari ini akan turun hujan. Seharusnya aku mendengarkan perkataan ayam untuk bangun dan mencari makan.”

Burung hanya bisa menangis menyesal dalam sarangnya yang kecil sambil memegang perutnya yang kelaparan.

Burung sangat-sangat kelaparan karena sejak pagi ia belum makan dan saat ini pun ia tidak mempunyai simpanan makanan.

Burung pun teringat dengan ayam, ia hendak menghampiri ayam untuk meminta maaf padanya karena sudah tidak mendengarkan perkataan ayam.
Burung rela berhujan-hujanan untuk dapat menghampiri ayam.

“Ayam..” panggil burung dengan suara pelan.

“Ada apa burung? Kenapa kamu datang kemari saat hujan lebat? Lihatlah tubuhmu basah terkena hujan” Jawab ayam.

“Aku datang kemari ingin meminta maaf padamu, karena sudah tidak mendengarkan perkataanmu tadi. Seharusnya tadi aku bangun dan mencari makan. Sekarang karena aku tidak mendengarkanmu aku sangat kelaparan.”

“Sudahlah burung, aku sudah memaafkanmu. Aku juga sudah mencarikan makanan untuk dirimu sebelum hujan turun. Sekarang isilah perutmu dengan makanan ini.”

“Terima kasih banyak ayam… kau begitu sangat baik pada diriku. Aku berjanji untuk tidak telat bangun dan mencari makan.”

Burung pun langsung memeluk ayam dengan wajah yang sangat bahagia. Ia beruntung memiliki sahabat seperti ayam yang sangat memperhatikan dirinya. Ia pun segera makan makanan yang diberikan oleh ayam dengan lahap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengamatan Protista Pada Air Got

Analisa cerpen Dodolitdodolitdodolibret dan Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Aji Gumira