Analisa cerpen Dodolitdodolitdodolibret dan Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Aji Gumira

Dalam sebuah cerpen terdapat unsur-unsur penyusunnya, yang pertama ialah tokoh yang merupakan pelaku dalam sebuah cerita yang mengalami persitiwa dalam cerita tersebut dan tokoh juga sebagai jalannya suatu cerita. Cerpen dodolitdodolitdodlibret ini menceritakan tentang perjalanan seorang lelaki yang menyebarkan dan mengajari cara berdoa yang benar sedangkan dalam cerpen sepotong senja untuk pacarku menceritakan tenntang aku yang berusaha mengambil dan memberikan senja untuk pacarnya.

Tokoh utama dalam cerita dodolitdodolitdodolibret adalah Kiplik, terbukti dengan adanya kalimat, “Kiplik sunggu mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng. Mana mungkin ada orang bisa berjalan di atas air.” Pikirnya. “Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah.” Pikir Kiplik, “Karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku cara berdoa yang benar memang dijual dimana-mana?”.”Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan diatas air” Dari beberapa kalimat tersebut telah menunjukan bahwa Kiplik merupakan tokoh utama dalam cerpen dodolitdodolitdodolibret karena pada kalimat-kalimat terssebut, menjelaskan bahwa Kiplik akan mengajarkan cara berdoa yang benar kepada semua orang. Maka dari itu tokoh Kiplik menjadi tokoh utama yang menguasai atau memenuhi cerita tersebut. Sedangkan cerpen sepotong senja untuk pacarku, tokoh aku yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kalimat, “ Alina tercinta, bersama surat ini ku kirimkan padamu sepotong senja dengan angina, debur-ombak, matahari terbenam dan cahaya keemasan.”. ”Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.” Kalimat tersebut menunjukan bahwa tokoh aku dalam cerita ini akan mendapatka senja dan hanya diberikan untuk pacarnya.

Unsur penyusun cerpen selanjutnya ialah penokohan yang merupakan karakter dalam cerita yang dibuat oleh pengarang. Penokohan dalam tokoh utama cerpen dodolitdodolitdodolibret yaitu Kiplik adalah tokoh Kiplik mempunyai watak atau karakter yang baik hati, memiliki rasa sabar dan simpati yang tinggi serta sosok yang pantang menyerah. Penokohan Kiplik yang mempunyai watak yang baik hati ditunjukan pada kalimat, “Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapapun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa yang benar.”. “Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai dank arena itulah kemudia ia pun selalu ingin membaginya.” Tokoh Kiplik tersebut baik hati karena ia tidak pelit dengan ilmu yang sudah diperolehnya, justru ia ingin membagi-bagikan ilmunya agar semua orang dapat memperoleh ilmu yang merupak cara berdoa yang benar. Penokohan Kiplik yang kedua yaitu rendah hati, ditunjukkan pada kalimat. “Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkan kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana cara berdoa secara benar.” kata mereka. “Namun Guru Kiplik selalu menolaknya”. “tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan.” Katanya, “dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”. Dari kalimat-kalimat tersebut, tokoh Kiplik bukanlah sosok orang yang ingin selalu dihormati maupun diikuti kemana pun ia pergi dan bukanlah seseorang yang sombong karena ilmu yang telah dimilikinya, melainkan ia hanya sekedar mengajarkan kepada orang lain, agar orang lain itu memperoleh kebahagiaan yang akan membuat dirinya merasa bahagia. Selanjutnya penokohan Kiplik yang ketiga yaitu pantang menyerah yang ditunjukkan pada kalimat, “Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampong ke kampong, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-ngeri yang jauh dan disetiap tempat orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.” Tokoh Kiplik dalam cerita tersebut benar-benar pantang menyerah untuk menyebarkan bagaimana yang baik pada semua org. ia rela pergi hingga jauh dan tak kenal lelah untuk membuat orang lain bahagia karenanya. Sikap sabar juga termasuk pebokohan Kiplik yang keempat, yang dibuktikan dalam kalimat, “Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut.” Kalimat tersebut menyatakan bahwa penokohan Kiplik ini sangatlah savar. Ia selalu berusaha agar orang-orang dapat mencapai kebahagiaannya, sehingga ia menyewa perahu bersama awaknya untuk mencapai sebuah danau yang dimana penghuni danau itu masih belum mengetahui cara berdoa yang benar, sehingga para penghuni danau tersebut tidak perlu pergi berlayar kemana pun. Yang kelima penokohan Kiplik memiliki rasa simpati yang ditunjukkan pada kalimat, “Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.”. “Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik. Dari penokohan Kiplik tersebut, ia menginginkan agar semua orang dapar berdoa dengan cara yang benar, sehingga ia membantu banyak orang untuk mengajarkannya dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih. Sedangkan pada cerpen sepotong senja untuk pacarku, tokoh aku digambarkan sebagai orang yang penyayang dan pantang menyerah akan tetapi tokoh aku juga sangat serakah dan egois serta memiliki sifat angkuh. Yang pertama penokohan aku digambarkan sebagai orang penyayang, terbukti dengan adanya kalimat, “Alina tercinta, bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan.”. “Alina yang manis, Alina yang sendu, akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.”. “Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.”. “Alina kekasihku, pacarku, wanitaku. Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas.” Kalimat-kalimat tersebut menunjukan bahwa tokoh aku adalah seseorang yang penyayang, karena ia selalu memanggil pacarnya dengan sebutan yang manis seperti saying dan ia memberikan senja itu untuk Alina sebagai ungkapan rasa saying darinya. Yang kedua dalam penokohan aku ialah seseorang yang pantang menyerah yang ditunjukkan pada kalimat, “Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”. “Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.”. “Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana.”. “Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan.”. “Terjadi kejar-kejaran yang seru.”. “Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.”. “Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main.”. “Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga.”. “Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut.” Dari beberapa kalimat tersebut menggambarkan bahwa tokoh aku merupakan seseorang yang pantang menyerah, meskipun ia jatuh berulang-ulang kali di tempat yang kumuh ia tetap bangkit lagi. Meskipun ia terkerangkap di tempat yang jelek dan bau, ia tetap rela karena itu semua ia lakukan agar Alina mendapatkan senja yang akan ia berikan. Tetapi tokoh aku ini sangat serah dan egois yang merupakan penokohan ketiga dan keempat dari tokoh aku. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kalimat, “Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku.”. “Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku.”. “Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu.”. “Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang.” Kalimat tersebut mengungkapkan bahwa tokoh aku merasa tidak puas dengan satu senjanya maka saat ia melihat senja yang lain, ia pun langsung mengambilnya juga dan ia sangat egois karena senja yang ia dapatkan tidak boleh untuk orang lain melainkan hanya untuk Alina seorang. Penokohan aku yang kelima yaitu tokoh aku memiliki sifat yang aku yang diungkapkan pada kalimat, “Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia.”. “.Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi.” Jelas bahwa dalam kalimat tersebut tokoh aku menyepelekan sebuah kata-kata, padahal kata-kata didunia ini sangat penting. Dengan adanya kata-kata seseorang dapat saling berkomunikasi dengan baik. Jika tokoh aku mengatakan bahwa kata-kata tidak dibutuhkan lagi, lalu mengapa ia masih menulis surat untuk Alina, pacarnya.

Dalam sebuah cerita juga harus memiliki sudut pandang, karena sudut pandang merupakan cara pengarang menempatkan dirinya terhadap suatu cerita. Sudut pandang orang ketiga merupakan sudut pandang cerpen dodolitdodolitdodolibret. Dapat dikatakan sudut pandang yan pertama karena terdapat dalam kalimat, “Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.” Kalimat tersebut merupakan salah satu dari beberapa kalimat yang menunjukan sudut pandang orang ketiga karena dalam cerita tersebut pengarang menggunakan pengenalan tokoh dan kata ganti “ia”. Sedangkan dalam cerpen sepotong senja untuk pacarku menggunakan sudut pandang orang pertama, yang ditunjukkan dalam kalimat, “Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.” Kalimat tersebut juga merupakan salah satu kalimat yang menunjukan sudut pandang orang pertama dalam cerpen sepotong senja untuk pacarku, karena si pengarang membuat cerita dengan menggunakan kata ganti “aku” sehingga pengarang ingin membuat pembaca seolah-olah ada atau terlibat dalam cerita tersebut.
Majas atau gaya bahasa juga salah satu unsur penting dalam sebuah cerpen. Dengan adanya majas cerita tersebut menjadi lebih hidup dan menarik untuk dibaca. Karena majas ini merupakan gaya bahasa yang berbentuk kiasan atau perumpamaan sehingga cerita menjadi lebih indah yang akan menimbulkan kesan imajinatif bagi para pembaca. Majas yang digunakan dalam cerpen dodolitdodolitdodolitbret adalah majas sarkasme, majas retorik, majas klimaks, majas hiperbola, majas metafora dan majas repetisi. Majas sarkasme ditunjukkan dalam kalimat, “Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan.” Dalam kalimat tersebut tokoh Kiplik menyindir secara agak kasar, ia menyindir bahwa orang-orang yang doanya belum dikabulkan atau belum terwujud berarti orang-orang tersebut salah dalam berdoa. Majas retorik ditunjukkan dalam kalimat, “Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”. “”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”. “Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?” dari beberapa kalimat tersebut menyatakan bahwa kalimat yang memiliki majas retorik ini merupakan majas yang berupa kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban, sehingga akan memberikan penegasan atau sindiran pada orang lain. Majas klimaks terdapat pada kalimat, “Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?” dari kalimat tersebut gaya bahasa yang dipakai itu menggunakan kata-kata yang secara berurutan lama kelamaan semakin memuncak. Majas hiperbola terdapat dalam kalimat, “Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.” Kalimat tersebut menggambarkan atau menyatakan bahwa keadaan terjadi secara berlebihan, karena pada kenyataannya seluas apapun danau tidak seperti luasnya lautan, maka dari itu disebut majas hiperbola. Majas metafora terdapat dalam kalimat, “Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.”. “”Danau seluas lautan,” pikirnya. “Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.” Kalimat tersebut memakai majas metafora karena kalimat tersebut mengandung perbandingan suatu hal dengan hal yang lain. Majas repetisi terdapat dalam kalimat, “Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa.”. “Alangkah terkejutny Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!”. “Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga.” Dari kalimat tersebut ada beberapa yang mengulang kata-kata tertentu dalam beberapa kali seperti hampi-hampir, berlari-lari, dan terkejap-kejap. Sedangkan pada cerpen sepotong senja untuk pacarku terdapat majas hiperbola, majas repetisi, majas klimaks, majas metafora, majas personifikasi, dan majas retorik. Pada majas hiperbola terdapat pada kalimat, “Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku.”. “Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.”. “Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.”. “Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta.”. “Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya ilhai.” Dari kalimat-kalimat tersebut, menyatakan bahwa cerita ini banyak sekali terdapat majas hiperbola, majas ini mengungkapkan keadaan secara berlebihan, contohnya saja pada saat tokoh aku mengatakan bahwa cahaya senja meluncur hingga ke angkasa, karena kita tahu bahwa senja dalam cerita ini bukanlah senja yang sebenarnya. Karena yang sebenarnya senja tidak dapat dipotong dan dimasukkan ke dalam saku. Majas repetisi dinyatakan dalam kalimat, “Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.”. “Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.”. “Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.”. “Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan.”. “Terjadi kejar-kejaran yang seru.”. “Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.”. “Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.”. “Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.”. “Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol kutancap gas dengan kecepatan penuh.” Beberapa kalimat tersebut termasuk dalam majas repetisi karena pada kata-kata tertentu terjadi pengulangan kata seperti kejar-kejaran, orang-orang, gang-gang, gorong-gorong dan lainnya. Majas klimaks terdapat pada kalimat, “Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu.” Kalimat tersebut merupakan majas klimaks karena menggunakan sesuatu secara berturut-turut yang makin lama makin memuncak, sesuatu yang dimaksudkan ialah Alina. Majas metafora terdapat pada kalimat, “Kukirim padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hamper tenggelam ke balik cakrawala.” Kalimat tersebut membandingkan sesuatu dengan yang lain secara langsung, sehingga disebut dengan majas metafora. Majas persemifikasi dinyatakan dalam kalimat, “Bumi berhenti beredar dibelakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin.” Kalimat tersebut menggambarkan suatu benda seperti manusia. Majas retorik dinyatakan dalam kalimat, “Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?”. “Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing?”. “Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”. “Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya?” beberapa kalimat tersebut merupakan kalimat tanya yang memerlukan jawabahan, hanya sebagai penegasan, maka dari itu disebut majas retorik. Dapat kita simpulkan bahwa dari kedua cerita tersebut banyak terdapat majas, sehingga kita harus lebih teliti lagi setiap kali kita membaca cerpen yang terdapat majas, agar kita dapat mengerti dan memahami arti atau maksud dari setiap kalimat yang bermajas. Selanjutnya analisa fungsi kalimat dalam cerita dodolitdodolitdodolibret dan sepotong senja untuk pacarku. Yang pertama, namun guru kiplik selalu menolaknya. Namun merupakan fungsi kalimat konjungsi atau kata penghubung, Guru Kiplik merupakan fungsi kalimat subjek dan perana kalimat sebagai pelaku, selalu menolaknya merupakan fungsi kalimatnya predikat dan peranan kalimatnya sebagai tindakan. Yang kedua kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos. Kulihat cakrawala itu merupakan fungsi kalimat subjek dan peranan kalimat sebagai pelaku, kulihat cakrawala itu merupakan induk kalimat yang dimana anak kalimatnya yaitu kulihat sebagai predikat dan cakrawala itu sebagai subjek. Berlubang sebesar merupakan fungsi kalimat predikan yang pernanan kalimatnya sebagai tindakan. Kartu pos merupakan fungsi kalimat pelengkap dan peranan kalimatnya sebagai sirkumstan atau penyerta. Kalimat tersebut merupakan majas hiperbola. Yang ketiga kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana. Kini merupakan fungsi kalimat keterangan waktu dan peranan kalimatnya sebagai sirkumstan atau penyerta. Senja itu merupakan fungsi kalimat subjek dan peranan kalimat sebagai pelaku. Bisa kamu bawa merupakan fungsi kalimat predikat dan peranan kalimat sebagai tindakan. Ke mana-mana merupakan fungsi kalimat pelengkap dan peranan kalimatnya sebagai sirkumstan atau penyerta. Yang keempat kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Kulihat orang-orang itu merupakan fungsi kalimat subjek dan peranan kalimatnya sebagai pelaku. Melangkah merupakan fungsi kalimat predikat dan peranan fungsinya sebagai tindakan. Ke arahku merupakan fungsi kalimat pelengkap dan peranan kalimatnya sebagi sirkumstan atau penyerta.
Selanjutnya dalam sebuah cerita didukung dengan adanya setting atau latar, sehingga cerita tersebut terlihat lebih nyata. Setting atau latar itu sendiri merupakan keterangan yang membantu suatu cerita menjadi lebih hidup maupun lebih nyata, latar tersebut dapat berupa latar tempat, latar waktu, maupun latar suasana. Cerpen dodolitdodolitdodolibret dan sepotong senja untuk pacarku terdapat latar tempat, latar waktu dan latar suasana. Latar tempat dalam cerpen dodolitdodolitdodolibret dinyatakan dalam kalimat, “Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.”. “Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau.”. “Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.”. “Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.”dalam beberapa kalimat tersebut, terdapat danau, pulau, perahu layar, itu merupakan latar tempat dimana latar tempat itu sendiri dapat disebut juga sebagai latar yang kelihatan. Sedangkan pada cerpen sepotong senja untuk pacarku latar tempat dinyatakan dalam kalimat, “Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan.”. “Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa.”. “Sore itu aku dudk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu.”. “Aku melejit ke jalan raya.”. “Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima.”. “Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan”. “Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.”. “Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga.”. “Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat.” “Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.”. “Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu”. “Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.” Dari beberapa kalimat menjelaskan bahwa dalam cerita ini banyak terdapat latar tempat sehingga cerita ini terlihat lebih nyata, dan latar tempat yang digunakan seperti jalanan tol, gedung bertingkat, perempatan jalan, pantai hingga gorong-gorong. Latar waktu dalam cerpen dodolitdodolitdodolibret dinyatakan dalam kalimat, “Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.”. “Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau.”. “Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.”. “Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya.”. “sebenarnya beberapa saat lamanya, guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.”. “Baru saja selesai berdoa, salah satu awak perahunya berteriak.” Latar waktu yang terdapat dalam cerpen tersebut seperti  suatu ketika, setiap kali, ketika, kemudia, sudah tiba waktunya, beberapa saat lamanya dan baru saja selesai, itu merupakan kata-kata yang menunjukkan latar waktu yang terjadi dalam cerpen dodolitdodolitdodolibret. Sedangkan dalam cerpen sepotong senja untuk pacarku dinyatakan dalam kalimat, “Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu.”. “Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.”. “Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang.”. “Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.” Kalimat tersebut menunjukkan latar waktu seperti sore hari, ketika, kini, kemudian,dan setelah itu. Latar suasana yang terdapat dalam cerpen dodolitdodolitdodolibret terdapat dalam kalimat, “Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.”. “”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”. “Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!”. “Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.”. “Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!” “Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga.”dari beberapa kalimat tersebut latar suasana yang terjadi ada suasana kaget atau terkejut pada saat melihat danau yng luasnya seperti lautan dan ketika Kiplik melihat Sembilan orang berlari di atas air, lalu suasana haru pada saat Kiplik mengetahui bahwa Sembilan orang itu tidak putus-putusnya berdoa meskipun sibuk bekerja. Suasana senang ditunjukan pada saat Kiplik telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar. Sedangkan latar suasana yang terjadi dalam cerpen sepotong senja untuk pacarku terdapat dalam kalimat, “Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan.” Kalimat tersebut menyatakan bahwa tokoh aku mengalami keraguan ketika ia akan memberikan senja pada Alina. “Catat nomernya! Catat nomernya! aku melejit ke jalan raya.”. “Terjadi kejar-kejaran yang seru”. “Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga.”. “Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap.” Beberapa kalimat tersebut menunjukan suasana panic, cemas dan menegangkan karena terjadi kejar-kejaran antara tokoh aku dengan polisi dan orang-orang sekitar. “Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu.” Kalimat tersebut menyatakan suasana yang menyenangkan karena dengan susah payah akhirnya tokoh aku dapat memberikan senja kepada Alina.
Dalam sebuah cerita tidak mungkin tanpa adanya alur, karena alur merupakan rangkaian peristiwa cerita dari awal hingga akhir cerita yang disusun secara kronologis. Cerpen dodolitdodolitdodolibret merupakan alur maju, karena pada awal cerita merupakan pengenalan yang terdapat pada kalimat “Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng. “Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya. Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.”. “Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.”. “Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.” Dari kalimat-kalimat tersebut merupakan tahapan pengenalan dari sebuah alur, dalam cerita tersebut dijelaskan pengenalan tokoh yang awalnya tidak percaya bahwa seseorang dapat berjalan di atas air hanya karena berdoa yang benar, sehingga tokoh utama yaitu Kiplik memperdalam ilmu berdoanya dan berusaha mengajarkannya pada semua orang. Selanjutnya pemunculan konflik yang terdapat dalam kalimat, “Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.”. “Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau.”. “Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.”. “Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.” . “Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!”. “”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.” Pemunculan masalah pun dimulai pada saat Guru Kiplik mendatangi danau yang terdapat Sembilan orang penghuni, lalu ia terharu ketika ia tahu bahwa kesembilan orang ini tidak putus-putus untuk berhenti berdoa. Namun cara mereka dalam berdoa salah sehingga membuat Kiplik sedih dan memulai mengajarkan cara berdoa yang benar. Puncak dari masalah ini terdapat dalam kalimat, “Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.”. “Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!”. “”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.”. “Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa.” Puncak masalah tersebut didasari karena Sembilan orang penghuni pulau itu sangat susah untuk mengubah cara berdoa mereka yang salah, sehingga membuat Kiplik berpendapat bahwa Sembilan orang itu telah terkutuk dan setanlah yang telah menyesatkan Sembilan orang itu. Lalu penyelesian dalam cerita ini terdapat dalam kalimat, “Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.”. “Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.”. “Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!” penyelesaian dalam cerita ini pun berakhir dengan baik dan bahagia, karena Kiplik yang hampir saja putus asa, terharu karena kesembilan orang itu akhirnmya dapat berdoa dengan benar. Lalu ketika itu lah Kiplik pamit meninggalkan mereka, namun pada saat Kiplik berada di perhu layarnya ia dikejutkan dengan kesembilan orang penghuni pulau itu karena mereka dapat berlari di atas air dan bukan lagi berjalan diatas air. Maka dari itu lah cerpen dodolitdodolitdodolibret dikatakan alur maju karena dari pernyataan itu merupakan rangkaian peristiwa yang berurutan sesuai dengan urutan waktu sehingga cerita tersebut bergerak maju. Sedangkan pada cerpen sepotong senja untuk pacarku merupakan alur mundur, karena pada awal cerita merupakan suatu penyelesaian atau akhir cerita yang terdapat dalam kalimat, “Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?”. “Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu.”. “Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.”. “Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.” Pada awal cerita yang merupakan akhir cerita atau penyelesaian ini telah dijelaskan dari beberapa kalimat. Pada beberapa kalimat tersebut menjelaskan bahwa tokoh aku mengirimkan surat yang berisikan sepotong senja untuk Alina, pacarnya. Selanjutnya dalam pemunculan  masalah dinyatakan dalam kalimat, “Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.”. “Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku.”. “Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.”. “Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku.”. “Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.”. “Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku.”. “Catat nomernya! Catat nomernya!” Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik.”. “Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang.”. “Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan”. “Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.”. “Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku.” Puncak dari permasalahan cerita ini telah ditunjukkan dalam beberapa kalimat tadi. Tokoh aku yang telah memotong senja dan orang-orang disekitarnya meributkan hal itu, maka terjadilah kejar-kejar dan tokoh aku merasa cemas kalau dirinya akan tertangkap. Semua orang memang sedang mengincar tokoh aku karena senja telah hilang dibawa olehnya. Karena itu lah para polisi terus mengejar dan mencari tokoh aku yang telah mencuri senja. Pada akhir cerita yang merupakan awal dari sebuah cerita ini dinyatakan dalam kalimat, “Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos.”. “Alina kekasihku, pacarku, wanitaku. Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang asli ini untukmu, lewat pos.” Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali, senja dalam arti yang sebenarnya? bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.”. “Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.”. “Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.” Dari kalimat-kalimat tersebut yang merupakan awal cerita menjelaskan bahwa tokoh aku memberikan senja yang asli untuk Alina atau senja yang sebenarnya bukan seperti senja yang ada di gorong-gorong. Itu artinya tokoh aku tidak ingin memberikan senja hasil curiannya melainkan senja yang asli yang benar-benar diperuntukan untuk Alina. Maka senja yang ia temukan di gorong-gorong diletakkannya kembali di pantai yang pertama kali ia menemukan senja. Maka dari itu lah cerpen sepotong senja untuk pacarku merupakan rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu atau cerita tersebut bergerak mundur atau flashback.
Terciptanya sebuah cerita itu tidak lepas dari tema, karena tema merupakan ide atau pokok pikiran untuk membuat suatu cerita. Tema dari cerpen dodolitdodolitdodolibret ialah seorang ahli agama yang mengajarkan pada semua orang tentang cara berdoa yang benar. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kalimat, “Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air. Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.” Tema dari cerita dodolitdodolitdodolibret ini juga bersifat umum karena didalam cerita tidak diceritakan bahwa cerita ini dikhususkan untuk agama tertentu saja, melainkan untuk semua agama. Sedangkan tema pada cerpen sepotong senja untuk pacarku ialah perjuangan atau usaha seseorang untuk mengungkapkan rasa saying atau rasa cintanya kepada orang yang istimewa bagi dirinya atau untuk kekasihnya. Dapat dinyatakan dalam kalimat, “Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan”. “Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu.”. Tema-tema itulah yang menjadi ide landasan cerita dodolitdodlitdodlibret dan sepotong senja untuk pacarku.
Dalam sebuat cerita pasti mengandung sebuah amanat yang diharapkan pengarang dapat kita contoh atau kita terapkan dalam kehidupan kita atau sebuah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Amanat yang dapat kita ambil dari cerpen dodolitdodolitdodolibret adalah kita harus dapat berdoa dengan cara yang benar yang berarti sikap, hati dan pikiran kita harus tenang dan bersih ketika kita sedang berdoa. Lalu jika kita memiliki ilmu janganlah kita simpan sendiri ilmu itu melainkan kita harus membagiakannya pada orang lain, agar hidup kita menjadi berguna untuk orang lain dan bersikap rendah hati ketika memperoleh sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain, serta dalam cerita ini kita juga diharapkan untuk mnejadi seseorang yang sabar dan pantang menyerah disaat kita sedang mengalami seuatu permasalahan. Sedangkan amanat untuk cerita sepotong senja untuk pacarku, kita diharapkan untuk dapat mencintai dan menyayangi seseorang yang ada dalam hidup kita, kita juga diharapkan untuk bersikap pantang menyerah, dalam cerita ini kita harus pantang menyerah untuk memperjuangkan rasa cinta dan saying kita kepada orang lain dan kita juga harus berusaha memberikan yang terbaik atau membuat seseorang yang kita sayangi itu merasa bahagia. Dari kedua cerpen tersebut amanat disampaikan secara implisit yaitu si pengarang tidak mengungkapkan pesannya secara langsung melainkan si pembaca yang harus mencari pesan dari cerita tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengamatan Protista Pada Air Got